Rumah

Raha, 25 Desember 2014. Saya di rumah. Duduk sambil mengetik dengan sesekali memandang keluar pada drum berisi air tadahan hujan, kadang memandang ke atas tepat pada kelapa yg ditanam bapakku.

I love this place. Bahkan ketika dulu rumah q masih berupa RSSS (rumah sangat sederhana sekali) dengan berdinding papan beratap rumbia lengkap dengan bocornya yang tentu saja hanya ketika hujan. Dari jauh seperti mau roboh. Apalgi kalau dari dekat. Tapi roboh bukan masalah utama. Kadang jendelanya sudah dimakan rayap dan tidak boleh kami buka. Hehehe. Bapak biasa saja. Tidak stres atau terlihat pusing. Bahkan sambil bergurau bapak yang sedang nonton acara TV bedah rumah berujar; “coba mereka kesini juga bedah rumahnya kita.” Hehehe…
waktu itu saya tentu menangkis; "tidak bisa toh pak, orang miskin itu yang di bedah rumahnya. Bapak kan PNS". Bapak merespon dan seperti biasa saya selalu kalah adu kalimat; "lho memangnya kita kaya?" ucapnya sambil tertawa lucu keras. Bapak selalu mengajarkan kami untuk tidak mencintai rumah bagus. Kata Bapak; rumah itu tidak dibawa di kubur. Yang penting hati tenang. Dan tentu saja itu betul.Bapak membangun rumah yang kini kami tempati di ujung periode PNS nya. saya tidak begitu ingat tepat tahun kami menempati rumah itu. Yang jelas Bapak membangunnya dan membuktikan pada saya; bahwa tanpa meminjam uang di Bank dan tanpa pusing memikirkan tagihannya tiap bulan, bapak bisa membangun rumah.
Susah ya... apalagi seperti saya yang hidup merantau di daerah orang. tapi saya yakin Allah punya banyak pintu untuk selalu kita buka sebagai jalan rezeki. OPTIMIS!!!
Eniho, Mungkin itulah yang disebut home sweet home. Saya tetap nyaman di rumah itu dengan segala kekurangannya.
Rumah dulu, telah lama di bongkar. Saya tidak memiliki data visual yang nyata untuk saya pajang disini. Rumah dulu; adalah rumah tempat kami bermain melatih perkembangan jasmani dengan bemain sembunyi-sembunyi (petak umpet) di dalam rumah, memanjat pohon di depan rumah yang selalunya dilarang, dll. (biasanya kami memanjat pohon jambu ketika Bapak belum pulang dari ngajar, begitu pulang niscaya kami gemetaran diatas pohon jambu, hehehe) dan bahkan melatih argumen baik verbal maupun nonverbal (berkelahi adik-kakak). hehehe, Tempat kami menyaksikan banjir bukan di kali tapi di dalam rumah kami. Banjir yang membuat mamaku harus memotong daging di atas meja karena air yang masuk ke rumah cukup tinggi sementara kami kegirangan seperti orang dari padang pasir. Banyak perjalanan yang ingin saya bekukan di sana.
Ketika kecil, teman saya; Saliha suka sekali datang dan membujuk saya dengan segala rayuannya untuk main monopoli yang selalunya saya kalah sehingga malas. Dengan muka malasku, dia tetap keukeh membujuk dengan berkata: biar mi ko ambil Bali. Saya: tidak mau. Dia: ambil mi juga dengan jogya pale. akhirnya saya mau dan saya tetap kalah (hehehe).
Dan rumah lama itu dibangun bapakku yang sekarang sakit.
Bengkak jantung. Sempat masuk RSUD Raha beberapa minggu lalu. Saya selalu optimis untuk kesembuhannya.
Semoga Alloh memberi kesembuhan kepada bapakku
Semoga Alloh memberi bapakku umur panjang yang  barokah
Semoga Alloh memberi kesehatan pada mama ku
Semoga Alloh memberi mamaku umur panjang yang  barokah
Aamiiiiiin …

Kita mungkin tidak kaya Pak. tapi kita kaya hati ...

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment