Untuk Anas; MUHARDIN A1D204092



kapal ini sandar di 'pelabuhan besar' di sebuah kota bernama Kasipute
20 Desember 2010 ketika malamnya engkau meninggalkan kami semua disini dan menyimpan kenanganmu dengan kami tanpa membawanya sebagai bentuk berterimakasihmu dan berterimahkasih kami kepadamu

BUKAN HARI INI “SAJA!!!”

Rasa ini
untukmu bukan hari ini …..
Tulisan ini
untuk mu bukan hari ini ……
dan air mata ini
wujudnya
masih bukan hari ini…..
SAJA!!!!!!

Created by Ipeh di Kasipute tertanggal 20 Desember 2010

Dan barang siapa yang menyabarkan dirinya, Allohpun akan memberinya kesabaran, tidak ada karunia yang lebih baik dan lapang yang diberikan kepada seseorang melebihi kesabaran (HR. BUKHORI DAN MUSLIM)
Meski komunikasi secara lahiriah kita tak mungkin lagi. Tapi saya yakin kalau kamu masih bisa mengetahui sebelumnya bahwa banyak hal yang ingin kami dengarkan dan ingin kami bagi. Banyak hal yang ingin kami sampaikan. Banyak hal yang belum kita selesaikan. Termasuk pertemuan yang kurencanakan namun tak dikehendaki oleh Alloh SWT ketika mengetahui kau ternyata berada di RS. Nas, Kita tak begitu dekat sedekat sumber air mata dengan keharuan dan kesedihan. Tetapi bagiku kamu lebih dekat dari sumber air mata dengan mataku saat ini. Yang selalu memenuhi ku sejak subuh tadi hingga seharian ini dan hingga ketika ingatanku menujumu. Saya terdiam tak bersuara. Karena telah kubiarkan air mataku berbicara terus tanpa harus ditemani isakan tangisku. Saya mencobanya dengan keras, untuk tidak terisak nas. Sungguh…. Karena saya tahu kamu, saya dan semua yang ada di bumi ini bukan milik siapa-siapa kecuali Alloh. Yang ketika Alloh meminta milikNya. Maka kita tidak berhak untuk tidak rela…. Kita hanya sebagai peminjam. Anas …..
Pagi ini sekitar pukul 6 pagi. Saya sudah menunggumu. Saya dihubungi Ndut nas. Ndut dan saya meminta diriku untuk menunggumu dan menantimu di pelabuhan Bombana. Jujur, Sejak subuh tadi. Saya menanti sesuatu yang saya tahu akan mampu merobek seluruh dinding penahan air mataku. Saya belum melihat mobil putih yang membawamu menuju ketempatku kini duduk. Tapi air mata ini sudah demikian derasnya. Mengalir dan membuat orang-orang dipelabuhan yang kebanyakan penjual ikan menatapku kasihan. Mereka bertanya, aku menangis semakin. Aku berucap sekedarnya. Jujur dan terbuka untuk menghilangkan sedikit beban yang kupikul sendiri saat itu. Mereka memberiku kekuatan dengan mendengarkan ceritaku dan merespon dengan tepat untuk mengurangi rasaku. Teman yang membawa sobatku menelpon. “ipeh ya? Kita yang mobil putih. Kalo sudah lihat segera mi menuju kesitu”. Me: “iya.”
Setelah itu saya ditelpon kembali. “pelabuhannya salah ipeh. Bukan di spit. Tapi di pelabuhan besar”. Saya mengiyakan dan menyuruhnya menungguku dan tidak menyebrangkan sobatku sebelum aku melihatnya. Me: “tunggu pale, sa kesitu”. Saya mengojek, terpaksa. Saya bergegas tetap dan masih dengan air mata yang terus kubawa. Saya seperti linglung. Saya bingung. Saya melihat mobil itu. Saya bertemu dengan anak yang ternyata adik junior sobatku. Tanpa saya harus bertanya, mereka menunjukkan tempat sobatku berada. “itu, didalam mobil” kata mereka. Saya menutup separuh wajahku, sebagai pertanda bahwa saya butuh penopang dan saya membutuhkannya. Saya butuh menutup wajahku sebagian. Mungkin supaya Anas tidak melihatku menangis. Saya tak sanggup melihatnya. Tapi saya harus melihatnya yang mungkin (sepertinya pasti) untuk terakhir kalinya. Pintu belakang mobil itu dibuka. Saya disuruhnya masuk oleh temannya. Saya menggeleng dengan ketidaksanggupan saya. Saya takut pingsan dengan ketidakkuatanku saat itu. Dan takut semua. Saya menggeleng dan mereka menunjukkan jendela terdekat dengan wajah sobatku itu. Aku mengintip dan kemudian memberanikan diri melihat dengan seluruh pandangan dan hatiku. Saya mendekatkan tanganku yang memegang sebuah ponsel milik adik juniorku; Hasna kearahnya. Saya mendekatkan seluruh perasaan dan penglihatanku yang masih cukup jelas. Bersamaan dengan semakin derasnya air mata yang kurasakan turun dari sumbernya. Mereka membukakan penutup wajahmu untukku. Saya melihatmu saat itu. Tersenyum. Saya gemetar memegang ponsel. saya merasa hamper pingsan. saya menyandarkan tubuhku di mobil putih itu. Saya minta izin mengambil gambarnya dengan tangan yang tidak terkendali dan air mata yang juga tidak mau berhenti turun. Seorang temannya mengerti. Mengambil ponsel dari tanganku dan memotretnya untukku. Beberapa kali. Saya melihatnya tersenyum. Seakan bernapas. Tapi saya keluh. Lidahku keluh. Dan semuaku keluh kecuali air mataku. Saya tak berucap sepatah katapun padanya. saya hanya memanggil namanya. Satu hal yang paling kusesali saat itu. Qodarulloh. Semua sudah berjalan atas kehendakNya.
Anas. Begitu kau mengakrabkan diri dengan saya disini dan teman-teman disana, di Kendari. Saat ini kamu sudah tidak bisa lagi berkomunikasi denganku menggunakan bahasaku. Anas, saya menangis bukan menangisi untuk tidak menerima kepergianmu. Karena itu semua sudah kehendaknya. Semua sudah qodarulloh bahwa kita tidak bertemu ketika saya sangat ingin menemukanmu. Saya juga tau kamu mengerti akan hal itu sebelumnya. Saya cukup sedih dengan ketidaksangkaanku bahwa kau ternyata punya waktu yang sedikit diberi Alloh untuk bersama kami semua. Saya tahu, kita boleh bersedih asal jangan berlebihan dan seakan mau berontak. Itu yang kulakukan saat itu. Menahan semuaku. Banyak hal yang harus saya sesalkan seandainya saja. Tapi saya kembalikan ini semua adalah qodarulloh. Saya cukup sedih karena tidak diberi kesempatan untuk bertemu denganmu dalan keadaan hidup beberapa waktu terakhir ini. Alloh berkehendak lain untuk kita. Mari terima itu dengan lapang. Untuk saya dan semua teman-temanku di Kendari dan dimanapun berada. Kami semua menyayangimu nas. SUNGGUH!!!!!!
Senang bisa melihatmu tersenyum pagi ini untukku dan untuk semua orang …..
dalam sebuah hadis Alloh berfirman: Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang (HR. MUSLIM)
Semua sudah diatur oleh Alloh baik waktu ataupun keadaannya. kita semua berusaha dan berdo’a dan memasrahkan segalanya kepadaNYA. Mari jadikan semua kejadian ini sebagai pelajaran bagi kita semua. Peringatan bagi kita semua. Untuk semakin mendekatkan diri pada kebaikan. Dan jadikan pula ini sebagai peringatan untuk tidak menyesali dan menyalahkan apapun, termasuk waktu dan diri kita sendiri. Karena seperti telah menjadi pengetahuan umum bahwa segala hal termasuk ajal itu tidak bergantung pada sesuatu termasuk umur dan keinginan. Semua adalah urusan Alloh. Wallohu a’lam.
Saya juga mau mendo’akanmu sobat…… semoga amal ibadahmu diterima oleh Alloh SWT dan semoga engkau mendapat bagian dari surganya. Amien Ya Robbal ‘alamiin…
Anas….. Ini Ipeh ………
Selesai.

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment