Sejak pertama, ada perasaan aneh bagaimana begitu ketika saya dipanggil dengan kata tersebut; ‘ibu guru’ ada yang lebih parah; ‘bu’, bahkan ada yang paling parah; ‘ibu….’. YA ALLOH, saya seperti masih ingin dipanggil dengan panggilan yang ala bisa karena biasa saja lah (lho? Biarkan biarkan Cuma dia ji yang ngerti, xi xi xi).
Perasaan ini semakin menguat ketika saya menjenguk anak murid saya yang sakit yang bertempat tinggal di sebuah tempat bernama POEA, Intan namanya. Dengan nada-nada sakit dan lemah serta tak bertenaga; dia: ‘bu……’ Saya yang kaget langsung merasa mau cari anak kandung saya (wuik wuik wuik, calm down, jangan panic) ……… seperti gerakan tidak jelas mencari pegangan. Naluri keibuan dan kekagetan yang bercampur seperti menciptakan ruangan lift yang semakin mendesak dan menyempit buat para klaustrophobia. Ough …
Taulah perasaan itu juga diakibatkan saya dan bu Dewi yang kebetulan janjian jenguk, by foot atau on foot atau istilah kerennya kita jalan kaki siang bolong mendekati jam 12 siang kerumahnya yang jauhnya lumayan (SEMANGAD 45 nih). Supporting ideas pun tadi telah terlewati dengan jalan keluar masuk sekolah yang bukan lagi rusak, tapi sudah rusak parah, Hem!!!. Jadi kita betul-betul dilatih dengan latihan militer mendekati barak-barak angkatan itu tuh. Belum lagi surprise surprise kecil, seperti kalo ada ular sawah. Tak adalah yang ngalahin kita-kita ini. He he he.
Yuks bersemangad menjadi bu guru …….
Penguatan dan penyegaran serta semangad dibutuhkan buat si sakit. Apa yang kami punya kami beri, termasuk perasaan. Sa sayang ko kasian anakku (lho? Anak? Kumat MODE: ON). Sudah sebulan ini dia gak sekolah. Gejala types. Taulah obatnya cacing tanah. Hem, semoga cepat sembuh dan yakinlah hanya ALLoh yang memberi kesembuhan padamu de. Dia hanya terdiam, tersenyum, dan sesekali memanggil ibu lagi. Hem, biarlah, biar dia bahagia. He he he.
Setelah memberi wejangan dan semangad buat murid kami itu, kami pun beranjak pulang. Dan ‘again’ jalan kaki yess!!!
Kaasi MODE: ON
Tapi …….
ROSULULLOH SHOLLALOHU ‘ALAIHI WASALLAM BERSABDA, APABILA SESEORANG (MUSLIM) BERKUNJUNG (MENENGOK) SEORANG MUSLIM YANG SEDANG SAKIT, MAKA SEAKAN-AKAN DIA BERJALAN DI KEBUN SURGA, HINGGA IA DUDUK. APABILA SUDAH DUDUK MAKA AKAN DILIPUTI ROHMAT ALLOH. APABILA IA BERKUNJUNG DI PAGI HARI, MAKA 70.000 MALAIKAT AKAN MENDO’AKANNYA AGAR IA MENDAPAT ROHMAT HINGGA SORE. APABILA IA BERKUNJUNG DI SORE HARI, MAKA 70.000 MALAIKAT AKAN MENDO’AKANNYA AGAR IA DIBERI ROHMAT HINGGA PAGI HARI (HR. AT-TIRMIDZI, NO 969, IBNU MAJAH, NO 1442. DERAJAT HADITS INI SHOHIH)
Setengah perjalanan terlewati kami sudah mencari-cari napas buatan. Untung saja masih agak hijau alias sebenarnya tempat itu hampir hutan. Wkwkwkwkwk. Kalau kendaraan lewat debunya, hem debu versus pohon dimenangkan oleh debu. Di kordinat sekitaran POEA, yang terlihat berjalan kaki hanya kami berdua, he he he. Di titik-titik mendekati SMK Bombana, barulah kami mulai sedikit mendapat tanda-tanda kehidupan. Hem. Jalan yang kami lalui masih batu-batu tidak jelas plus debu-debu yang bikin kita menutup muka seperti bercadar. He he he, satu kesenangan di sisi lain. Eits….
Tetapi semua kembali dengan penguatan yang sempurna. Sebuah kata ‘ibu’. Terkadang saya merasa lucu-lucu saja. Kadang yang panggil ibu, tingginya harus membuat saya menoleh dengan mengangkat kepala. (Ibu?) hem, untuk menjaga supaya saya tidak merasa mereka anak saya, saya memanggil mereka dengan sebutan nama panggilan atau ‘de’ sudah mencukupi. Mereka punya lho panggilan lucu-lucu. Seperti beberapa murid kelas 3; ada IRON (diucapkan dengan iron bukan airon), trus ada unjum yang bernama lengkapi JUMIYATI, de el el. Saya paling suka nama unik mereka ini. Tapi kalo saya panggil ‘unjum’ dia langsung merespon :ih ibu dia’. Wkwkwkwkwkwk. Nda ji pale.
Ih ibu dia, hem!

0 Comments