Menulis Pagi di Bombana


Bismillah …..

Hem, masih pagi…. Sebelum siap2 berangkat bertugas. Saya masih harus duduk di depan notbuk yang loadingnya minta ampun ini hanya karena ingin menulis. Tunggu tombol start x saja mw berfungsi, bisa kita tidurkan dulu barang sesaat. He he he, hanya kesabaran yang saya miliki untuk bisa tetap setia pada notbuk dengan merk Toshiba ini. Dan akhirnya sampai saat ini, selama lebih kurang 10 bulan, dia membuat saya terbiasa dengan loadingnya yang lama. Ala bisa karena biasa. Akhirnya saya bisa memahaminya dan hubungan ini pun tetap harmonis (cieee….). bukankah hubungan itu akan baik-baik saja ketika kita saling memahami dan terbuka satu sama lain? Yah seperti jujurnya notbuk ini ketika dia memang lalo. Dia tidak berpura-pura bahwa loadingnya 300 km/jam ketika faktanya tidak begitu. Saya juga tidak harus membantingnya kalo dia lagi lalo betulan (he he he, gerakan anarkis, tapi mang berani? Mesin tik aj berpikir dulu 20 tahun kalo mw dibanting, he he he). Saya tak pernah kasar. Karena dia telah menemani saya ketika notbuk2 yang lain begitu mahal memasang harga. (he he he). Jadi beli notbuk nya gak karena Alloh nih? He he he, paan coba sampe kesitu2 barang?
Oh ya…. Saya berencana mengikuti lomba novel yang di adakan Republika Online itu. Hem, tapi cukup berat. Karena saya tidak bisa begitu focus menulis. Karena, mood menulis yang saya punya tidak bisa dipaksa-paksa. Ternyata menceritakan kembali kisah yang telah kita alami kedalam bentuk bahasa tulis adalah hal yang cukup berat. Apalagi ketika sesi kisah yang hendak kita tuangkan tidak sesuai dengan kondisi perasaan yang dimiliki saat hendak penulis. Hasilnya pasti bahasanya tidak nyaman, kontroversi, de el el.
Jadi, saya bingung…. Apalagi banyak keinginan-keinginan saya yang sudah berada pada stadium 4. Seperti belajar bahasa Arab yang sekarang mandek sedikit selain karena saya baru pulang dari Makassar, juga karena ustadz x lagi sakit. Jadi isi otak bertumpang tindih.
Saya tau nya gak sengaja waktu itu. Saya sms umm Muhammad tepat setelah beliau bilang gak ada ta’lim.
Umm… ustadz lg sakit?
Yang di jawab nya dengan:
Na’am huwa maridhun
Jeglek. Spaningku langsung turun. Hem …. Syafahullohu.
Mana lagi ada siswa ku yang kalo di depan saya dan orang-orang lain lugu nya minta ampun. Eh, ternyata dibalik keluguannya dia terlanjur sabar berada dalam kesalahan dengan begitu disiplinnya dia mengikuti band music yang tentu saja dibayar dengan vakum nya dia di dunia pendidikan. Oughhhhhhhhhhhh…. Kenapa ko kasian de …… kalau sudah berhadapan dengan saya, dia tenang minta ampun. Tapi hatinya sudah berada pada kondisi terikat dengan kesenangannya yang membuatku bingung. Pagi ni rencana mw ada gerakan tambahan yang kubuat sebelum ke sekolah. Konseling. Berbicara empat mata dengan anak itu. Dari hati ke hati. Dan semoga ini berjalan sesuai rencana.

Lho….lho…. isinya kok curhat perasaan negatif? Haduuuuuh… ayo pagi2 tebarkan aura-aura positif. Smile-smile. Cheers…..

Nah, begitu biar awet muda. Good.

SMANGAD PAGI!!!!!

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment