HAKADZA MUSHIBAH



Saya ingin berkisah tentang seseorang. Dia hanya seorang yang biasa. Yang berharap dosa-dosanya juga diampuni oleh Alloh. Sama seperti saya dan juga semua manusia yang berharap demikian.
Dalam kisah ini, penulis menggunakan sudut pandang AKU-an. Supaya terkesan lebih kuat dan dapat feel nya. Untuk masalah nama dan siapa dia sesungguhnya, biarlah sementara waktu ini dirahasiakan dengan alasan yang cukup syar’i. Tulisan ini pula diinginkan oleh pelaku (pelaku apa mi ini, hehehe) supaya bisa menjadi ibroh atau berfaedah buat orang yang membacanya. Itu saja, tanpa ada maksud laen.
Di sebuah kawasan yang tidak berada diluar Indonesia (hem hem).
CERITANYA BEGINI,
Sebelumnya saya belum sampai pada tingkat sadar tinggi menyadari dengan sesungguhnya (hem) bahwa ini mushibah. Tidak setelah saya diberi pesan pendek dengan isi huruf-huruf yang singkat namun padat maknanya bagi saya pribadi. HAKADZA MUSHIBAH. Itu ji pesannya. Syukron. Semoga Alloh membalas yang lebih baik untuk pesan itu. Yang saya baca seperti masuk kedalam rasa dan otakku dengan tidak ada gangguan dislexia. Kalimat pendek yang saya baca cukup lama. Setelah saya pikir2 ini memang mushibah.
Saya tersadar dari ketidaksadaran saya untuk mengucapkan kalimat istirja dibarengi lafadz yang sudah diajarkan oleh Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam
“INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI ROOJI’UUN. ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHOIRON MINHAA”
Berdasarkan sebuah hadits:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, “INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI ROOJI’UUN. ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHOIRON MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya),” melainkan Allah akan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim no. 918)
Qodarullohi wa maa sya a fa’al (HR. MUSLIM)
Setiap orang diberi ujian oleh Alloh. Berbeda-beda dengan jalan keluar yang beraneka warna. Dan saya yakin termasuk yang saya alami sekarang.
Saya mesti melihat orang yang lebih berat mushibahnya dari saya. supaya saya tetap bersyukur kepada Robbii.
Saya juga harus membaca kembali cerita kisah para shohabat yang ternyata hampir hilang kata-kata saya yang pantas untuk mewakili cerita nyata mereka. SUBHANALLOH……
Itu ashabul ukhdud… masyaAlloh …… begitu besar kekuatan cinta mereka kepada Alloh. Dan engkau ukhti …..
Harus lebih kuat LAGI….. HAMASAH!!!
Ingatlah kisah ummu ismail …… AALLOHU AMAROKA BIHADZA YA IBROHIM? Komentar yang akhirnya harus dijawab dan dikuatkannya sendiri lewat lisannya IDZAN LAA YUDI’IINAA
SUBHANALLOH………………..
Penguatan berikutnya INNA MA’AL ‘USRI YUSRO
Kok saya baru ingat ini. Ada begitu banyak Alloh memberi kita semua yang kita butuhkan. Termasuk kalimat-kalimat yang tertuang dalam firmanNYA.
HUSNUDZON BILLAH UKHTI ……..
Bukankah seseorang dahulu pernah berkata LAA TAHDZAN UKHTI, INNALLOHA MA’ANAA.
Saya jadi teringat kata teman saya; ISTIQOMAH itu HARGA MATI. Yah, lebih kurang sama lah dengan NKRI harga mati.
Jadi kita semua harus tetap istiqomah di jalan Alloh. Menempatkan dan berusaha menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. Karena semua ini ada hikmahnya.
JAZAKUMULLOHU KHOIRO
Uhibbukum fillah
Penulis

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment