Rincian cerita blog ini terkesan menggunakan alur campuran, kadang mundur, kadang mundur sekali. He he he. Waktu itu saya baru memakai jubah. Saya paling hobi memakai yang warna biru. Kainnya enak dipakai dan saya merasa nyaman saja. Lho? Kok malah bahas ini? Hem hem….. ini yang sesungguhnya:
Cerita ini terangkat menjadi nyata terjadi, setelah sebelumnya masih berupa tulisan di lauhim mahfudz sana.
Saya lulus di depag bombana. Alhamdulillah.
Tetapi perasaan senang ini, masih membuat saya harus menimbang-nimbang lagi. Banyak hal yang harus saya pertimbangkan.
Saya sudah mau memasukkan berkas untuk S2. Tinggal tunggu rekomendasi dari pembimbing ku, pak Deddy Amrand. Saya mau ke Melbourne. Mimpi gak salah kan?
Selain itu, jauh nya masyaALloh …. 200 km…. gak salah tuh?
Apalagi, ta’lim ku? Aduh……..
Atau sambil menunggu tes S2, saya mau tes di Pemda saja lagi. Batinku….
Beberapa teman sempat Tanya, gimana bombana peh?
Hem? Entahlah, sa sedang pikirkan. Saya mw istikhoroh dulu
Lho? Apanya lagi?
Tida ji, hanya sa sedang menimbang-nimbang banyak hal.
Oh….. (mereka ber ‘oh’ dengan raut muka yang berwarna kebingungan)
Teman saya bahkan saat nelfon sempat hampir melakukan gerakan anarkis (qiqiqi)
Waktu saya masih ngajar di SMART SCHOOL. Didalam sebuah ruangan kelas.
Kring kring kring
Ya. Halo, assalaamu ‘alaikum..
Ipeh?
Iya von…
Selamat eee…
Makasi ivon
Eh, kenapa tidak bersemangat?
Hem..tida ji
Di bombana di?
Iya…. Eh ivon kapan tes pemda kah?
Kenapa ipeh? Ko mo ikut tes pemda lagi?
Mungkin mi..
Astaghfirulloh… jangan mi. ambil mi itu.nah belum tentu u lulus di pemda itu. Keras perlawanan di sana.
Kata ivon dengan cukup berapi-api. He he he.
Silent sebentar. Iya di..
Io. Ko ambil mi itu…. Sudah dulu e…
Ia. Salam untuk wa ati.
iya
Saya sempat memberatkan timbangan beberapa persen ke timbangan pergi ke bombana dibanding tetap di SMART SCHOOL dan menunggu S2 serta menunggu tes PEMDA.
Hem, tapi jujur saja, saya masih seperti bingung belum bulat memutuskan.
Saya sempat juga curhat pada teman seperjuangan; ana
Ukh, gimana mi di? Sa ke bombana atw tidak.
Iya ukh, jauh skali di… jangan mi mungkin
Iya juga … tapi bapakku da senang karena tidak tidak pake bayar2
Iya juga di…. Anti istikhoroh mi dulu
Iya… (untuk yang ke berapa kalinya, he he he)
Saya sempat juga curhat sama ndut. Ndut, sa ambil tidak di yang di depag itu? Yang di respond langsung tanpa AIUEO dia membawa kadir ke kamar saya (her soulmate, sekaligus teman setanah sedarahku, lho? He he he).
Tanpa basa-basi mereka berucap salam, masuk ke kamar kos ku dan kami duduk laksana konferensi meja bundar. Dimulai dengan kadir yang langsung men skak mati saya dengan seberondong kalimat, pernyataan dan pertanyaan
Jadi, kapan ke bombana peh?
Tida tau kadir
Eh, kenapa itu?
Enho hanya melirik seksama
Apa yang jadi pertimbanganmu kah?
Oh, ko mo tes S2 kah?
Ia kadir
Dimana?
Di Australia
Hem… Begini ipeh, itu tes S2 belum tentu u lulus. Bukan sa mo remehkan u, tapi ini bombana jelas2 100 % u sudah lulus. Masa u mau lepas demi yang belum pasti?
Tapi kadir, di sana panas skali, sa berkeringat kalau siang2, berkeringat yang berkeringat betul.
Aduh ipeh, itu hanya masalah waktu. Bukan masalah besar.
Disana itu bagus untuk merintis usaha
Ketika kadir mengucapkan ini, saya dan ndut saling melirik, mengulum senyum seabstrak mungkin supaya kadir tidak membaca gerakan kami dan mengerti mind set x dia. Dia hardworker dan mata bisnisnya terbuka 24 jam. Hem… dia melanjutkan lagi pikiran-pikiran dunia usahanya.
Karena di sana kab baru. Emas disana itu yang terbaik sedunia. Belum lagi nanti disana mau dibangun lapangan terbang internasional peh. Jelas usaha akan lebih maju dan berkembang pesat. Dan nanti kalah Jakarta itu
Kadir terus saja, berbahasa bisnis dan kota-kota yang akan dikalahkan bombana….
Seketika saya dan ndut di bawa pada atmosphere kota metropolitan…
Dan akhirnya saya terlena, sampai:
Begitu kah kadir?
Iya. Jelas itu…..
Iya pale di …. Sa kesana saja.
Setelah itu, saya dan ndut saling ragap. Sa berucap thanks pada kadir dan Ndut.
Makasih pale nah.
Iya. Qta langsung pulang ini.. jadi ji kesana toh?
Oh iya..
Assalaamu ‘alaikum
Wa’alaikummussalam
Seorang temanku (yang kini telah almarhum, MUHARDIN alias ANAS, miz u friend hiks hiks) tak kalah memberikanku terapi ancaman. He he he
Gimana mi CPNS ni?
He he he
Ko masih bingung kah ipe?
Sedikit…
Hem, ko itu, ko pergi mi saja disana…. (raut muka marah, tanpa senyum)
Kenapa memangnya nas?
Eh!!! Supaya ko tau ada daerah selaen Raha (dengan tone tinggi)
Jangan u berdiam di Raha terus. Ada juga hae itu Bombana…
He he he he….

Energy yang paling menghidupkan charger battere ku adalah yang dari kadir itu, dari teman2 laen mencas dengan isian sekitar 75 %. Kadir dengan ceramah dan curhat bisnisnya mencas timbanganku seberat 180 %...
Thanks for every single friend of mine. LUV U ALL

Setelah memasrahkan segalanya kepada Alloh, berdo'a dan embel2nya ......
Dengan kehendak Alloh, (dan ridho orang tua saya hijrah ke Bombana)
Bombana am coming

2 Comments

  1. oh...da harus baca si hardworker ini peh. hehehehehehehehehe......!!! ipeh...i miss u so much. anas juga, iya....sarannya sadis da langsung marah2 sambil bilang ada daerah lain bukan hanya raha, anas anas anas....komen mu di. ipehhhhhtulis phe lagi yg lain. sa mohon. pleaseeeeeeee

    ReplyDelete
  2. hehehe, z ingat skali ini ndut, detik2 hampir z tolak jd pns padahal org lain ad beberapa sedikit org menyogok puluhan ikat

    ReplyDelete