Ini hanyalah pendapat saya pribadi. Jauh dari akurat, valid, dan ilmiah. Sekedar kata hati yang berusaha dikeluarkan lewat paduan kata dan tanda baca. Bagi saya, (saya lho, skali lagi ‘saya’) predator anak adalah salah satu masalah bangsa yang sebenarnya memiliki akar.
Kalau yang dipotong adalah apa yang tampak, saya melihat, akar itu tetap saja tidak hilang.
Sama seperti tumor. Yang nampak hanyalah apa yang terlihat. Didalam, siapa yang tau? Kalau mau dikebiri kimia, apakah psikisnya akan lebih baik? Apakah ada kemungkinan dia akan menyalurkannya dalam bentuk yang berbeda?
Terus mau diapain dong?
Saya juga gak tau. Ada yang sebut-sebut hukum mati. Ah, saya mah orangnya gak tegaan. Trus? Tega kalau anak anda yang dibegitukan? Yah, gak juga lah. Trus? Entah. Tapi perlu juga kita garisbawahi bahwa ada pernyataan kalau pelaku bisa saja korban di masa lampau. Auh… ini simalakama kan?
Di bangsa kita, masalah seperti lahir dengan pupuk terbaik. Semakin subur. Saya yakin, pemerintah sudah berusaha juga meredam. Hanya saja, mungkin ada satu celah yang mungkin luput. Apa itu? Entah… intinya sih, akar. Kita harus mencari akarnya.
Akarnya adalah tempat awal yang seharusnya kita zoom. Disitulah letak starting poin. Dan itu tidak jauh-jauh jawabannya. Ibu.
Kita harus beranjak dengan memperbaiki, meng-ilmu-I ibu dan membekalinya dengan banyak hal. Kalau kesadaran ini ada dijiwa perempuan. Saya pikir, mungkin bisa lebih baik.
Hanya saja… kenyataannya tidak begitu kan?
Pemerintah harusnya rela memberikan dana besar untuk ini. Demi memangkas akar hampir seluruh masalah. Tapi, kita gak punya banyak uang. Kita sedang mundur kalau soal keuangan. Kita sebagai rakyat juga harus paham itu.
Pendidikan di Ibu harus yang terbaik. Mungkin tidak perlu lama untuk masa focus bangetnya. 3 tahun di masa emas anak.
Setelah itu, target pendidikan sekolah tidak perlu terlalu tinggi.
Maksud saya, biarkan guru berkreasi (that’s way we need a great teacher) dalam mendidik anak. Saya ingin mengatakan apa yang terjadi dilapangan. Saya pernah mengajar di sekolah level SMA. Diajak berkomunikasi sederhana dalam bahasa Inggris, susah lho. Ada yang bisa? satu. Diantara 50 orang. Bagi saya ini tidak representative. Kalau di kota besar? Ah, saya sedang berbicara kampung yang juga harus UN. Daerah yang belum masuk level kota.
Trus saya kembali teringat masa sewaktu kuliah. Seharusnya kan, kalau sudah masuk kuliah, paling gak, minimal, bisa kalau hanya percakapan standar. Tapi faktanya? Banyak anak yang sudah kuliah, tapi bahasa Inggrisnya tidak mencerminkan sudah belajar selama 6 tahun. Termasuk saya sih. Hehehe …
Tingginya target yang harus dicapai di SMA, sementara, kata orang (belum tentu benar juga sih, kalaupun benar, saya gak punya bukti) ada atau banyak sekolah yang membantu siswa pada saat ujian nasional. Ini salah satu awal dari sekian banyak garis start lainnya. Ini yang disebut kesalahan yang punya pembenaran. Anda setuju siswa dibantu? Saya gak. Menteri pendidikan juga gak setuju.
Serba salah pokoknya.
Padahal kalau seorang anak yang lahir, mendapatkan pendidikan dari Ibu yang baik dan benar, mendapat asupan gizi, otak, akhlak yang baik ketika TK. Bukan tidak mungkin, masalah negeri ikut musnah pelan-pelan.
Hei! Ingat, keluarga banyak yang memiliki masalah ekonomi. Apalah ada waktu buat ibu-ibunya untuk baca buku parenting, sementara mereka harus nyuci ke tetangga sebelah mencari rupiah.
Aih…
Ya Allah.
Harusnya kan ya …
Anak kecil dicontohi antri, buang sampah pada tempatnya (eh, giliran dia lihat orang dewasa buang sembarangan; rusak lagi deh belajarnya), tidak boleh mencontek, ujian tidak boleh dibantu (ajaran jujur jadi tinggal teori, ketika toh pada saat ujian dibantu), Tak usah rebutan kekuasaan karena jabatan susah dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.
Trus? Bagaimana donk?
Kembalilah kepada Islam. Mari buka kembali Qur’an Hadits bersama. Disana tersimpan banyak ilmu yang belum sempat terbaca.
Bagaimana seorang Ibu terhadap anak, bagaimana seorang suami terhadap istri, bagaimana rakyat terhadap pemerintah, bagaimana pemerintah terhadap rakyat, bagaimana sikap kita terhadap pohon, bagaimana perlakuan kita terhadap hewan, dll
Tapi, kita juga butuh dukungan media visual yang mengIndonesia; TV untuk memiliki visi dan misi yang sama. Mencerdaskan bangsa. Bukan memberi suguhan yang menarik tapi hakikat menutup urat malu.
Saya ingin mendo’akan rakyat Indonesia berinisiatif memperbaiki diri dan mendo’akan pemimpinnya kebaikan, lebih bijak, lebih jujur, dan lebih adil.
NB: Saya blogwalking, dan merasa bangga, banyak lho ibu-ibu yang sadar akan pendidikan anak. Ini berita baik untuk negeri kita.
Ditulis dan dipublish Selasa, 27 Oktober 2015