Nelayan

Bapak saya, pernah menunda sekolah demi mencukupi kebutuhan pendidikannya. Dia memilih melaut. Menjadi nelayan, lalu menjual ikan.

Jadi, kalau soal ikan, bapak saya lumayan jago. Pengalamannya menjadi nelayan, menjadikannya tau soal ikan. Soal laut. Juga soal "Manusia yang Berada di Perahu VS Makanan tak Favorit".

Bapak: Dimana Ajit?

Me: Memancing.

Bapak: Dimana?

Me: Di laut. Di Tampo. Sama Bapaknya Hafshoh.

Bapak: Da bawa bekal itu?

Me: Tidak.

Bapak: Eh... He he he... Lapar itu di tengah laut. Makanan apa saja jadi paling enak.

Saya harus mengakui itu. Karena saya pernah berenang (belajar berenang dan sampai sekarang belum lulus) di laut. Waktu itu saya bawa bekal nasi dan ikan asin. Ikan asinnya ikan tembang. Sejenis ikan yang durinya banyak. Dan yang benar saja, enaknya perpaduan sederhana itu, melebihi level terenak rasaku.

Bagaimana dengan Ajit?

Sepulang dari membawa rezki, saya bertanya.

Me: Ajit, apa kalian makan di laut? Belikah?

Ajit: Ada yang bawa ubi kayu. Yang punya kapal. Baru enak sekali itu ubi kayu sa rasa. Padahal sudah tercampur mi dengan airnya ikan yang kita tangkap. Malah sa celup-celup sedikit ubiku di air laut. Tambah enak.

Me: Sama apa mi teman makannya? Ikan?

Ajit: Tidak. Ubi saja. Tapi enak sekali e...

Saya tersenyum lepas.

Masyaalloh di... Laut.

Saya lanjut kepo...

Me: Umpannya kalian apa?

Ajit: Cumi-cumi. Itu sa bawa pulang sedikit.

Me: Cumi-cumi besar begini korang jadikan umpan?

Rasanya tidak tega. Cumi-cuminya lumayan besar. Enak sekali kalau dicapcay.

Ajit: Iya. Kita dikasih itu. Ada dua da kasih. Kita mau beli tapi, da kasih gratis. Temannya kayaknya.

Me: Temannya temannya bapak Hafshoh?

Ajit: Iya. Orang baik kayaknya dia. Dikasih saja. Temannya juga.

Ketika melihat satu jenis tangkapan Ajit,

Bapak : Kalo dulu, kita buang-buang ikan begini kalo dapat. Apalagi kecil-kecil begini.

Ucap bapak terkekeh mengingat zamannya dulu.

Me: Sekarang mahal ikan Opa.

Bapak: Ikan susah mi ditangkap. Rumahnya sudah dirusak. Kita saja, kalo rumah dirusak terus, siapa yang tahan tinggal?

Saya terdiam. Mengiya.

0 Comments