09.07.2018



Beberapa waktu lalu, Hafshoh minta dibacakan buku Chicken Soup. Buku ini, berisi kisah nyata penggunggah jiwa. Tidak berbentuk narasi, tetapi komik. Mungkin inilah juga yang membuat Hafshoh sangat ingin buku ini.  Diulang-ulang dan dia tetap menikmatinya dengan seronok. Hehehe…

Salah satu kisah yang kemudian menjadi senjata Hafshoh adalah tentang mendidik anak. Saya ringkaskan kisahnya, agar bisa difahami maksud saya ya bunda…

Begini kisahnya…

Ada seorang bapak mengajar anaknya memendekkan rumput menggunakan “Grass Clipping”. Tetiba, bapaknya tidak lagi memperhatikan anaknya, karena harus merespon panggilan istrinya. Dan saat itu, adalah momen dimana, mesin dan si anak butuh extra perhatian.

Disitulah masalah bermula.

Mesin yang seharusnya berbelok, tetap berada pada posisi jalan lurus dan tentu saja merusak bunga-bunga yang tertata rapi dan tengah berkembang saat itu. Bunga-bunga yang mengelilingi bidang rumput yang berbentuk kotak, ikut terpangkas.

Tahu apa yang terjadi?

Bapak sang anak yang sangat menyukai kerapihan dan keindahan halamannya, menjadi naik pitam. Matanya melotot. Darahnya naik. Dia mulai berteriak.

Sang istri segera mengambil sikap. Dipanggilnya suaminya. Dengan pelan diberitahunya;

“Ingat sayang… Kita sedang membesarkan seorang anak. Bukan bunga. Bunga-bunga ini, bisa tumbuh lagi di tempat yang sama tahun depan. Tetapi, anak kita, bila terlanjur terluka, mungkin seumur hidup akan diingatnya.”

Suasana menjadi dingin. Sang bapak mulai rasional. Dia kemudian mendekati anaknya. Mulai membimbing cara menggunakan mesin tersebut. Memberitahunya, tepat pada hal yang seharusnya dilakukannya.

Kisah tersebutlah yang kadang dipakai Hafshoh bila saya sedang marah.

Entahlah bunda… Kenapa sampai saat ini, kadang saya merasa masih belum sempurna dalam hal menjaga volume suara dengan nada menuju marah. Sampai saat ini, saya masih terus belajar berbenah. Rasanya, saya belum lulus 100 % menanganinya. Saya sadar, ujian terkait marah ini, bukan berhenti ketika saya lulus kelak entah di usia berapa. Ujian marah akan selalu hadir, sampai masa kita habis. Karena, penggoda selalu ada disebelah kita. Iya kan?

Pengingat saya, terkadang adalah Hafshoh. Senjata kisah tadi, sering disinggungnya, ketika saya marah menurut dia. (Sebenarnya kalau menurut saya, itu bukanlah marah. Hanya saja, saya kemudian sadar, intonasi saya diatas rata-rata. Dan itu… marah. Iya kan ya…?)

“Umi… Ingat! Umi sedang merawat saya. Bukan merawat makanan.”

Ucapnya, ketika misalnya saya berbicara keras padanya perihal makanan.

Kalau sudah seperti ini, saya biasanya langsung logis. Tarik napas dan tersadar. Astagfirullah. Saya salah.

“Jadi… Ummuki harus bagaimana Nak?” Tanyaku padanya.

“Ummi harus berbicara baik-baik saja. Jangan dengan marah.” Responnya.

“Iya di Nak… Maafkan Ummuki.” Ucapku merendahkan volume.

Dialog semacam ini, bukan sekali terjadi. Masyaalloh… Sungguh perasaan masih terus harus dikalahkan oleh rasional saya. Karena, perasaan, bukanlah timbangan. Perasaan bukanlah tolak ukur pada beberapa kondisi.

Saya jadi teringat faedah yang saya dapatkan ketika mengikuti taklim Ust. Syuhada. Kebetulan saat itu, materinya tentang ilmu.

Beliau memberi sebuah analogi.

Ada seseorang sebut saja A, miskin, tidak beriman, makan tak cukup, tidur tak nyaman, sakit-sakitan, lalu meninggal dan dikerubungi lalat.

Dan si B. Kaya, beriman, mapan, banyak uang, makan enak, meninggal di atas ranjang empuknya.

Kalau kita mau pakai perasaan, kan kasian si A. Sudah hidup susah. Masa sih matinya juga mengenaskan dan ujung-ujungnya masuk neraka?

*Kalau mau pakai perasaan, bisa saja ada toleransi. Tetapi… Hidup di dunia dan segala tolak ukur agama, bukan pakai perasaan. Perasaan siapa yang mau diikuti? Seribu orang, seribu jenis perasaan. Siapa yang Mau dijadikan tolak ukur?*

Seperti itu kira-kira faedah yang saya dapatkan pada saat taklim, kala itu.

Agama memiliki dalil sebagai patokan. Dalil Qur’an Hadits sebagai tuntunan. Demikian pentingnya ilmu.

Mencari ilmu. Belajar. Butuh semangat. Kita butuh ilmu untuk menimbang amalan yang kita kerjakan. Kita butuh ilmu untuk mendidik anak kita. Kita butuh ilmu, karena belajar adalah upaya memperbaiki diri.

Tetap semangat ya bunda-bunda sholehah… Barokallohu fiikum…

#SemangatSenin
#IIPSulawesi
#BundaSayang

Wa Saripah

Cat.

1. Grass Clipping: Mesin pemotong rumput yang digunakan dengan cara mendorongnya. *CMIIW*

2. Kisah tentang bapak dan anak diatas, belum tentu nyata.

5 Comments

  1. Kata katanya sederhana tapi ngena banget di hati

    ReplyDelete
  2. Harus belajar lebih sabar lagi ya mbak

    ReplyDelete
  3. Wah bukunya bagus dan mendidik

    ReplyDelete
  4. Saat marah kadang memang suka terbawa emosi sesaat yang dapat melukai hati anak

    ReplyDelete
  5. Sungguh lengkapnya panduan Alloh dalam alquran dan hadist

    ReplyDelete