Menempuh Jalan Lain Menuju Tujuan Pendidikan

Kasipute, 06 februari 2015. Tulisan ini dihasilkan awal Bulan Masehi kedua, baru sempat diposting sekarang, ketika Maret sudah menebalkan angka 5 di kalender HP.
Mungkin tulisan ini akan lebih condong ke opini. Meski secara definisi, sebenarnya saya tidak begitu memahami secara detail “opini” itu mengarah kemana tulisannya. Hehehe, lho? 
:)
Still think and want to write about education in our country. Jadi judulnya mungkin; MENEMPUH JALAN LAIN MENUJU TUJUAN PENDIDIKAN.
Saya tidak sepintar orang-orang lain tentang ini, ilmu saya masih belum seluas samudra, kata-kata saya juga sesederhana hujan yang turun. Kok hujan sih? Maklum sedang musim hujan disini. Hehe...
Saya masih ingat dulu sewaktu kuliah SPEAKING 3 yang diampu oleh bu Sartiah Yusran. Dia pernah menyinggung tentang jam masuk sekolah yang mungkin di seluruh Indonesia sama, kecuali mungkin sekolah anak dalam. Iya. Jam 07.00. saya menangkap opini beliau dengan tangan terbuka. Di satu dan banyak sisi.
Opini beliau dilatar belakangi dengan anaknya yang kebetulan baru masuk di sebuah sekolah di Kendari. Dan harus stres pagi2 karena jam 7 pagar sekolah sudah ditutup dan hal-hal yang menandakan kalau jam 7 itu terlalu banyak hukuman yang muncul di sekolah. Kata sederhananya “jam 7 itu adalah tanda teng waktu terlambat bagi siswa”.
Saya tidak begitu ingat bagaimana olahan kalimat beliau. Berikut ramuan kalimat itu dari saya, pagi2 anak sudah stress sebelum belajar. Di rumah stres karena buru-buru. Sarapan mungkin sudah tidak tahu apakah makanan lewat di kerongkongan atau langsung ke lambung. Bahkan, mungkin saja, sarapan pun tidak. Jadi begitu tiba di sekolah yang seharusnya pikiran tenang agar maksimal menerima ilmu berubah menjadi stress dengan berbagai tingkat.
Bisa dibayangkan kalau penerimaan siswa terhadap ilmu milik guru akan kurang maksimal karena stress dan berbagai perasaan negative sejenis yang merupakan penghambat dan penanda motivasi belajar yang turun.
Di luar negeri tempat anaknya sekolah sebelum di Kendari, masuknya memang tidak sepagi itu. Namun kalau dari segi kualitas, malah mereka lebih maju.
Orang boleh saja berpendapat lain. Itu sah dan berterima. Kalau saya ditanya, harus saya akui kalau saya setuju dengan itu. Mundurkan 07.30 mungkin akan sedikit lebih ringan. Atau jam 08.00 kan tidak siang itu.
Saya ingin menawarkan opsi sekolah dengan model yang ringan. Setelah sholat subuh, anak-anak meramaikan mesjid dekat rumah mereka dengan mengikuti pembelajaran di dalamnya. Baik itu, hapalan Qur’an, bahasa arab, atau yang lain terserah mereka. Mungkin tempat yang bagus adalah ICM Muadz Bin Jabal. Pembelajaran di mesjid juga tidak sekaku di sekolah yang harus berseragam, harus begini dan begitu. Jadi bawaannya lebih rileks dan santai. Dan ingat, kalau terlambat di pembelajaran ini tidak ada hukuman tutup pagar. Karena pagar mesjid selalu terbuka 24 jam sehari atau tujuh hari seminggu. Okeh…
Selesai jam 06.00. waktu penerimaan hanya berkisar 30-45 menit. Saya yakin sesedikit itu sangat maksimal. (pengalaman zaman beheula).
Trus jam 08.00 masuk mi ke sekolah formal. Rentang waktu dari 06.00 menuju 08.00 menurut saya, cukup baik untuk persiapan sekolah dari A sampai Z.
Di sekolah, saya tidak ingin belajarnya terlalu lama. Kalau di sekolahnya terdapat fasilitas dan hal-hal yang merupakan basic need bisa dipenuhi. Sholat berjama’ah di sekolah akan terlihat bagus. Kalau belum ada fisilitas. Jam 12 pulang.
Mata pelajarannya tidak perlu banyak. Tapi jumlah guru harus banyak. Karena kelas akan disulap menjadi kelas kecil. Satu ruangan maksimal 10 siswa. Jenis pelajaran yang mereka ambil adalah memilih. ini terinspirasi dari buku TOTO CHAN. Di sekolah tomoe mereka memilih mata pelajaran yang akan mereka pelajari. Asyik kan?
Hey... are you there Ipeh? Hem, siapa sih you?
Hihihi…


Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment