Dokter dan Pindah

Lampogu, 05 Juni 2017

#NulisRandom2017

Entah sudah 4, 3, atau 2 malam ini, Hafshoh selalu tidur malam kurang nyenyak. Dia menggerakkan kaki seolah mengisyaratkan sakit perut.

Hari pertama kejadian ini, tidak sedikitpun hati saya tergerak ke dokter. Nanti tadi malam, baru terketuk mengkonsultasikan ini ke dokter anak. Mengingat, sudah 2 kali saya mendapati fesesnya berwarna abu-abu.

Penasaran, akhirnya saya gugel. Badan saya berasa dingin membaca kemungkinan yang ditulis beberapa situs. Mulai dari radang, atau empedu, atau hati, ada yang kurang maksimal. Saya langsung berhenti menggugel. Saya mengambil air wudhu, sholat dan berdoa. Sedih rasanya mengetahui kemungkinan itu.

Saya bertekad kuat ke dokter anak besok.

_________

Sore di esok hari, saya mengunjungi dokter anak. Saya bertanya pada asistennya.

Me: ada dokter anak?

Dia: sudah pindah ke Kendari. Lama mi.

Saya kaget dan sedikit gusar.

Me: Dokter anak lain?

Dia: tidak ada. Pengganti dokter anak, nanti habis lebaran baru datang.

Me: oh, ada rekomendasi?

Dia: Dokter Merlin.

Me: dimana dia?

Dia: samping penggadaian. Dekat dokter Ati.

Me: oh, iya. Makasih.

Saya masih mencari informasi dimana saya mendengar nama dokter Merlin. Entahlah. Namanya begitu dekat. Ajid sudah saya suruh melajukan motor ke Lampogu. Di tengah jalan, barulah ketemu informasi tentang dokter Merlin. Iya. Dia dokter yang pernah menangani Hafshoh di RS. Dia biasanya mengganti dokter anak bila sedang keluar.

Motor sudah sudah sampai di depan praktek dokter La Ode Munandar Hibi. Dia dokter umum setau saya. Suasana cukup ramai. Saya mendaftar. Sambil menunggu panggilan, Hafshoh yang bete diam, saya sarankan melihat air mancur di samping ruang tunggu.

Sambil menunggu, saya menulis ini. Tiba-tiba nama Hafshoh sudah terdengar. Ah, sudah waktunya. Saya memanggil Hafshoh yang sedang asyik mengamati terjunnya air mancur.

_______

D: sakit apa anaknya?

Ucap dokter dengan raut muka meneliti dan seakan curiga anak saya gak sakit. Kecurigaan dokter bukan tanpa alasan. Hafshoh begitu aktif di dalam. Ketika masuk, dia langsung duduk di kursi yang seharusnya buat saya. Dan melihat ummuha (baca: ibunya) lambat merespon jawaban dokter, dia langsung menjawab, "sakit perut dokter."

Siapa coba yang mau percaya dia sakit?

Saya menceritakan kronologis dan flashback ke arah tidur malam. Serta warna feses yang mengabu.

Dokter masih tetap mendengar meskipun saya tau kalau dia ingin bilang, " Coba lihat anaknya lagi ingin loncat."

Dia menstetoskop perutnya. Sembari berucap, "baik kok."

Me: gerak peristaltik ususnya dok?

Dokter merespon kalau everything is OK.

Saya masih tidak yakin.

Me: kenapa kalau malam rewel dok?

D: kemungkinan masuk angin. Dikasih minyak telon saja.

Me: kalau feses yang warna abu dok?

D: dari makanan. Tidak apa bu. Anaknya sehat kok. Mungkin bisa ditambah scoot emulsion saja. Itu vitamin. Beli di apotik saja.

Me: oh, iya dok. Berapa administrasinya dok?

D: tidak usah. Anaknya gak sakit kok.

Me: makasih dok...

________

Di apotik yang terletak 10 langkah dari tempat praktek, saya membeli minyak telon. Rencana, saya mau mengganti scoot emulsion dengan buah saja. Tetapi...

Hafshoh: umi...tidak beli vitamin kah?

Me: tidak usah nak. Kita ganti saja dengan buah.

Saya merespon sambil memikirkan, betapa alat rekam anak ini canggih. Dia ingat. Padahal saya pura-pura lupa. Maksud saya sih, biar dia konsumsi real food. Lebih alami.

H: umi... saya mau vitamin umi.

Setelah diskusi panjang lebar. Saya mengalah.

Selesai.

Wa Saripah

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment