Wamponiki, 31 Agustus 2017

Pagi tadi, saya in hurry. Mau buru buru ke kios. Sebelum action, saya sudah menakar. Mencuci baju 5 menit. Karna kebetulan bajunya cuma itu saja. Lalu mandi. Apalagi Hafshoh sudah siap. Makan sudah. Mandi sudah. Tinggal saya yang belum. Insya Allah bisa cepat.

Reality:

Umi... umi harus setrikakan dulu baju kecilku ini. Untuk adikku. Supaya rapi. (FYI, saya belum lagi hamil).

Saya merespon protes.

Tapi nak, saya lagi buru buru. Harus cepat-cepat ke kios. Bajunya nanti disetrika di. Kan belum dipake...

Dia menolak.

TIDAK umi. Ini harus rapi. Nanti saya bantu.

Bantu?

Hem, kalau Sudah dia bilang bantu, yang sejatinya bisa kelar 10 menit, bisa 3 x lipat lamanya.

Saya mengalah setelah emosi menetralisir. Tarik napas dalam-dalam. Ok. Baiklah nak.

Hem...

Saya setrikakan mi baju kecil itu. Yang ternyata dia juga mau bantu.

Tapi ini panas nak.

Tidak apa umi, saya hati-hati. Ucapnya.

Hem, benaran lama kan. Batinku.

Saya membiarkan dia menikmati memyetrika. Sambil memantau dan kadang memegang tangannya. Mengarahkan. Tidak luput, saya juga mengingatkan. Tangannya, awas! Kakinya, awas!

Hem...

Apa sih yang bisa lebih lama padahal kita sudah dibantu?

I bet U know the answer.

Tetapi... saya selalu memberinya ruang untuk itu. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Biarlah saya menjadi orang yang lambat.

Wa Saripah

0 Comments