Nabi Ayyub bin Am'ush bin Razah bin 'Ish bin Ishaq bin Ibrahim 'alaihissalam. 

Buku berjudul Nabi-Nabi Bani Israil ini belum tuntas saya baca. Sekarang tentang Nabi Ayyub. Membacanya membuat saya melempar ingatan pada beberapa tahun silam. Jika kita pernah dicoba sakit berat, membaca kisah ini tentu menjadi motivasi dan pedoman. Bagaimana kiranya menghadapi cobaan berat.  

 Saat itu saya berusia 18 tahunan. Dua tahun setelahnya, saya merantau ke Kalimantan. Disana saya mengajar mengaji. Disitulah saya mendapat sebuah penyakit yang cukup menyetop beberapa nikmat yang Alloh pinjamkan.

  1. Saya tidak bisa berjalan layaknya orang sehat.
  2. Saya ngos-ngosan jika berjalan meski hanya beberapa langkah.
  3. Saya terbaring lebih kurang 7 bulan.
  4. Saya kehilangan nikmat bagaimana rasanya menjadi kenyang.
  5. Saya kehilangan nikmat menikmati lezatnya makanan enak. Karena saya hanya boleh memakan rebusan ataupun yang dikukus.
  6. Saya tidak bisa bermain.
  7. Saya tidak bisa berjalan-jalan.
  8. Saya tidak bisa tertawa.
Saat itu, yang ada adalah ketakutan. Serasa malaikat maut berada di balik pintuku. Menunggu waktunya untuk datang. Saya memperbanyak berdo'a. Berharap Alloh mau menerimaku sebagai hambaNya yang beriman. Saya membaca majalah keagamaan kepunyaan bapakku. Dan hal yang tak begitu banyak sampai akhirnya saya bosan dan tetap bertahan, Karena rasa takut itu ada. Ketika mengingat malaikat maut hendak membalik pintu kamarku dan menemukanku disini lalu mendekatiku dan mencabut nyawaku. Hal itulah yang membuatku tetap bertahan untuk sholat meskipun tentu saja berat. Saya bersyukur Alloh menguatkanku dengan segala ketakutanku didatangi malaikat maut. Ingatanku tentang neraka.Yang dengan itu saya tetap sholat 5 waktu.

Alhamdulillah...

Saat membaca buku ini barusan, saya menghela nafas. Masyaalloh. Saya kembali terketuk. Bukankah cobaanmu saat itu hanya 7 bulan? Bukankah Nabi Ayyub yang lebih tinggi derajatnya dicoba dengan cobaan yang lebih berat. 18 tahun dengan tanpa harta dan kekuasaan serta keluarga. Dan Nabi Ayyub tetap bersabar...

Disitulah kemudian kita harus kembali bersyukur pada Alloh. Alloh yang selalu membuka pintu taubat untuk hambaNya. Alloh yang selalu saja mengasihi meskipun kita kadang menjadi manusia yang lalai.

Astaghfirullah...

Rasanya saya harus lebih sering mengisi waktu dengan kalian hai buku-buku. Juga kalian hai video para ustadz. Juga tentu saja dengan semua item yang merupakan penumbuh semangatku untuk takut kepada Rob...

Jangan jadikan saya hamba yang berdalih dan meremehkan dosa sekecil apapun... Karena saya tidak tahu, apakah kalau bukan karena setanlah yang mengamankan rasa hati terhadap dosa.

Wa Saripah_Ummu Hafshoh
Pic dari unplush





 

 

0 Comments