Mts Lambiku. 06 Agustus 2015. Saya di madrasah. Hari ini kebetulan tidak mengajar. Saya isi dengan mengetik. Berupaya lagi untuk menguakkan ide-ide agar bisa dikonsumsi pembaca. Sudah beberapa minggu ini (sebenarnya hampir 2 bulan, hehe), saya hampir vakum lagi dari tulis-menulis. Bahkan saya sempat bingung, bagaimana mengawali semua ini?
Cara mengawali sesuatu adalah dengan memulai.
Jadi, tulislah apapun itu. So, lihat kan kata-kata saya diatas? Mungkin itu awal yang tidak bagus yah, tapi, who cares? I don’t. hehehe. Bagi saya, yang penting saya menulis. Bagus atau tidak, bukan urusan saya. Lho? Hehehe…
Saya teringat siswa-siswa saya di MAN 1 Bombana.
Bagaimana kabar kalian? Kaifa haalukum? How’s life?
Mengajar mereka membekaskan ingatan. Terutama yang punya semangat lebih tinggi daripada saya. Saya yakin, mereka akan menjadi lebih baik dari yang bisa saya raih. Saya ingin mereka muncul seperti bintang ketika mereka kuliah ataupun bekerja.
Masing-masing memiliki ciri khas dan saling melengkapi.
 Saya ingin mereka tahu, kalau bersaing itu, bukan untuk mengatakan bahwa saya lebih unggul. Bagi saya, bersaing itu untuk bilang bahwa saya juga bisa belajar. Unggul atau tidak itu urusan nomor 2. Ketika seseorang sudah unggul, dia harus kreatif. Dan yang lain tidak boleh merasa rendah. Mungkin beberapa akan menciut begitu teman bintang kelasnya muncul. Padahal sejatinya, semuanya memiliki keunggulan yang tidak saling dimiliki. Keunggulan dan potensi itu, ada untuk saling melengkapi. Kalian semua bisa kok. Believe me!
Kalian semua belajar untuk mendapat ilmu. Kalau di final kalian juara, Alhamdulillah. Tapi kalau, belum? It doesn’t matter. Jangan meruntuhkan semangat belajarnya. Hidup masih panjang, kalau semangatnya runtuh sekarang, gimana mau jadi kreatif coba?
Tekun lah dan terus belajar.
Ingat tokoh-tokoh terkenal kan? Si penemu lampu, Thomas Alfa Edison yah? Dia biasa saja. Tapi dia tekun mencoba. Dan itulah namanya belajar. Setelah 1000 percobaan baru dia berhasil. Siapa yang mau seperti itu? Banyak orang yang tidak mau. Bahkan bagi dia, dia bukan gagal.
Makanya, waktu di Koran di beritakan ‘kegagalannya yang ke 999 baru berhasil yang ke 1000. Dia dengan marah menghadap ke pemimpin koran itu dan meminta untuk diralat headline beritanya. Besoknya, berita Koran itu diganti,.isinya bermakna positif, setelah belum menemukan yang pas sampai 999 percobaan, Edison berhasil menemukannya di percobaan ke 1000. Saya tidak begitu ingat kata-katanya. Sebenarnya makna kata-katanya sekilas mirip. tapi sesungguhnya perbedaan 2 kalimat itu bagai bumi dengan langit. Jauuuuuuuuuuh skali. Kata-kata buatan saya agak kurang greget yah? Silahkan kalian telusuri cerita aslinya saja yah, dia bikinnya kata-katanya bagus buanged guys dan kalau sudah ketemu ceritanya bacalah!
Saya ingat waktu dia masih mengerjakan bola lampu itu, dia ditegur temannya untuk diminta berhenti karena gagal terus. Mungkin situasinya waktu itu begini (ini angan-angan saya berdasarkan cerita biografinya).
A: astaghfirullah Edison, sudah-sudah mi itu. Nah sudah 999 kali ini u gagal.
Edison: (dengan tidak terpengaruh pada ucapan negative temannya) saya hanya belum ketemu yang pas saja teman, bukan ji gagal ini namanya.
Si Edison masa sudah 999 kali gagal, masih mau terus mencoba (baca: belajar). Coba bold lagi jawaban Edison; SAYA BUKAN GAGAL, SAYA HANYA BELUM MENEMUKAN YANG PAS.
What? Kalian lihat kata-katanya? Kalian lihat makna dari kalimat itu? Kalau ada yang belum paham, mungkin harus membaca ulang atau minta dibacakan temannya.
Ini kata-kata siapa yang bisa keluarkan?
Kata-kata ini hanya orang yang mau berusaha yang bisa hasilkan.
Kata-katanya ini memotivasi. Kalau kita belajar. Yah belajar terus. Kalau belum berhasil, itu bukan gagal. Coretlah kata gagal dari otak. Buang kata-kata negative dari otak. Ciptakan otak yang mekar dan berkembang dengan kata-kata positif. Kalian pasti bisa!
Kalian tau kenapa dia begitu? Lihat ibunya! Banyak pula ulama-ulama yang berhasil dan kalian tau siapa dibalik itu? Lihat ibunya. Kalau ibu kalian belum seperti itu, kelak kalian semua harus menjadi ibu yang seperti itu. Seringlah membaca yah!
Saya sarankan kalau memiliki akses, carilah buku berjudul IBUNDA PARA ULAMA. Kalian harus membantu saya membangun bangsa. Saya sih, membangunnya dari hal yang kecil; anak. Mungkin karena disitulah saya HARUS bisa. Orang lain bisa memulai dari yang besar. Saya ingin mendidik anak dengan bagus. Bukankah kalau seluruh anak di Indonesia dididik dengan baik, seluruh bangsa akan baik? Jadi jawaban sederhana untuk seluruh masalah bangsa sebenarnya mudah yah? IBU. Trus Anak! Kalau kita sama-sama berusaha, saya yakin, generasi bangsa berikutnya semoga bisa lebih baik. Aamiiiiiin.
Maaf yah, ini alurnya agak sedikit berkelok, alur maju, kadang mundur, kadang topiknya berganti. Semoga tidak melelahkan mata untuk tetap membaca yah!
Kalian tahu tidak, yang membuat seseorang bertahan hidup dan terus berkembang adalah ketika dia kreatif berbuat. Setiap lini kehidupan harus kalian isi. Dan kalian harus bersama-sama, bekerja dan saling membantu untuk mengisi lini dan jalur itu. Tidak mungkin seluruh jalur kehidupan diisi dan dikuasai oleh satu orang. Masing-masing orang harus tahu, di mana kelebihan dan potensi. Dimana saya bagusnya? Dimana saya bisa maju? Dimana saya akan berpijak setelah ini? Kira-kira usaha apa yang bisa menghasilkan uang?
Pintar-pintarlah membaca situasi. Setiap lingkungan harus bisa kalian baca dan analisa.
Setelah semua itu, kalian akan bersama-sama membangun diri sendiri, Bombana, Indonesia, dan bumi.
Satu lagi, kalian harus menulis. Tulislah apapun itu. Kalian tahu tidak, sekarang banyak orang yang tidak bisa menulis (baca: menghasilkan tulisan dari otaknya sendiri, biasanya mereka copypaste lewat internet). Saya pernah menyuruh kalian menulis. Saya pernah membaca tulisan kalian. Bagi saya, kalian pasti bisa menjadi lebih baik dari saya. Kalian itu jempol (me: thumbs up).
Untuk bisa menulis kalian harus “memulai menulis” dan “membaca”.
Kapan-kapan saya sambung lagi.
Bagi siswa-siswa saya, tolong kalian tuliskan komentar. Kalau tidak bisa di media ini. Tulislah komentar itu di buku kalian. Jangan komennya hanya ada di pikiran dan tidak ada bukti bahwa kalian komen. Kalau tidak ada bukti, bisa-bisa di persidangan kalian kalah (lho?, hehehe).
PS: Kalian harus punya buku menulis!
Your Teacher,
Wa Saripah

0 Comments